Hari ini, saya melihat sebuah artikel sangat bagus di koran online USAtoday yang judulnya saja sudah bikin nyengir: "Pope Francis Defends Atheists". Ajegile, nohok banget judulnya. Seorang pemimpin Agama Katolik, tidak mempermasalahkan kepercayaan seseorang, asalkan orang tersebut: MELAKUKAN KEBAIKAN!
Francis described doing good not as a matter of faith, but of "duty, it is an identity card that our Father has given to all of us, because he has made us in his image and likeness."
"If we do good to others, if we meet there, doing good, and we go slowly, gently, little by little, we will make that culture of encounter: we need that so much. We must meet one another doing good."
Btw, pada ngerti kan? Gak usah diterjemahin lagi lah ye. Kenapa saya angkat topik ini di sini? Terus terang, saya suka kecewa. Kecewa berat sama orang-orang yang ngakunya beragama, bahkan berkoar-koar soal agama, tapi dalam kenyataannya sama sekali tidak melakukan apa yang semestinya dia lakukan sebagai umat beragama, mulai dari melaksanakan korupsi, menebar kebencian, melarang orang beribadah, memainkan perasaan orang dengan kawin sana sini, melakukan pembunuhan cuma gara-gara kepentingan, sampai yang memaksakan kehendak orang untuk masuk ke agama tertentu (dan tentunya masih banyak lagi contoh-contoh yang lebih menyesakkan).
Tadi siang, saya kedengeran khotbahnya pak uztaz dari toa mesjid deket rumah sini. Beliau menghimbau, untuk tidak mencampurkan agama dan politik, karena agama itu lebih ke memperjuangkan hubungan kita dengan Tuhan dan sesama, sementara politik itu hanya untuk memperjuangkan kepentingan pribadi dan golongan. Toss deh, pak uztaz! Lah, tapi kenyataannya gimana yah, ini negara udah terlalu carut marut. Partai yang katakan tidak pada korupsi saja, tau2 anggotanya pada masuk bui gara-gara korupsi. Belum lagi partai yang berlandaskan agama, ternyata korupsi sapi dan persoalan cewek-ceweknya semakin memanas dan jadi headlines di mana-mana.
Ah, gak usah jauh-jauh deh. Saya masih belum sampai kalau ke soal negara. Sekarang saya mau menceritakan pengalaman, mengenai hipokrasi kecil-kecilan yang terjadi di lingkungan sekitar saya.
1. Ada teman saya,orangnya alim, kalem, kelihatan sangat beragama sekali. Saya suka dishare-share lagu-lagu rohani sama dia. Bahkan kalau dia lagi pake headphone, saya suka ditawarin, mau denger bareng atau nggak. (Jelas lah saya nolak, mana enak denger lagu separo telinga). Saya pun beberapa kali naik taksi sama beliau. Kalau saya naik taksi, kebiasaan kasih bulatkan ke atas sekalian untuk tip-nya sopir taksi. Tapi pas saya pergi sama dia, saat saya mau bayar, dia keluarkan uang-uang dia yang terbutut, recehan dan uang kertas yang sudah sobek-sobek, lalu dia bilang, "Udah kasih pas aja, nih saya banyak duit butut, ngotor-ngotorin dompet aja, mending buat bayar taksi." Saya SHOCK! Shocknya karena dia berbicara begitu di depan sopir taksinya! Belum lagi kalau memperlakukan office boy, suka seenaknya, dan bilang: "Suruh-suruh aja tuh, kemarin udah saya kasih dia uang 100 ribu." Geez...
2. Ada orang lain juga, yang setiap hari bagi-bagi email renungan agama, kalau cerita soal agama sangat berapi-api. Tapi kalau dia nggak suka akan sesuatu, bisa-bisanya dia teriak-teriak dan memaki-maki orang di depan orang banyak. Kalau boleh dibilang, orangnya kasar banget. Yang anehnya, seringkali dia membanggakan dirinya sebagai seorang yang agamais dan aktif melaksanakan kegiatan keagamaan. Tapi kok tiap hari marah-marah dan memaki orang melulu. Gimana tuh? Sampai ada satu teman yang trauma loh diteriakin sama dia, dan sampai sekarang masih keingetan terus.
3. Ada juga orang yang setiap hari status BB, Facebook, dan semua media sosialnya menggambarkan kebesaran Tuhan, syukur, bahkan sering update kegiatan rohaninya. Pokoknya biar kelihatan kalau dia ini mantab lah ibadahnya. Tapi dalam kenyataanya orangnya tukang gossip, jelekin si A ke si B, jelekin si B ke si A, dan mungkin kalau ada 5 orang, akan disilang-silangkan semua gossipnya supaya masing-masing jadi tau kejelekan yang lain. Sebenarnya kalau menurut saya sih, orang tersebut hanya mau membuat dirinya feel better. Kecian deh lu! Too bad saya juga sempet kemakan loh, sampai akhirnya saya menyadari kalau keterusan, saya juga bisa terjebak dalam permainannya. Phew!
4. Ada lagi orang juga, yang maksain kehendak untuk saya memilih lagi agama yang "benar" dan mempertanyakan agama yang saya pilih, kemudian diterangin panjang lebar sampai berbusa, kalau saya selama ini ibadahnya salah, menyembah pihak yang salah, dan cuma agamanya dia saja yang betul, dan hanya melalui nabinya saja saya bisa masuk surga. Bahkan berani-beraninya ada seorang pemuka agama yang ngatain di depan muka saya kalau agama saya itu tradisinya serasa kayak orang mati (he said that it was "dead people tradition" saking membosankannya) dan dia bilang, memuji Tuhan itu harus gembira ria, bukan dalam keheningan. HELLO? Hari gini??
Kecewa gak sih? To be honest, sebenernya saya juga lagi gossipin orang sih sekarang *PLAK* hihihi. Oke, bukan gossip, tapi memberi contoh semata, kali-kali aja sebenernya banyak orang di sekitar kita yang seperti ini juga. Bawa-bawa nama agama, hanya untuk pembentukan image a.k.a. pencitraan, padahal aslinya, basi banget. Lebih basi jauhhhh daripada yang atheist alias gak percaya Tuhan/ gak memiliki agama, tapi menjalankan kehidupan yang baik, melakukan kebaikan untuk sesama, dan mempunyai semangat berbela rasa yang tinggi. Bahkan suami saya pernah dengan extremenya berkata, "Non, kalau ngga ada agama, mungkin dunia lebih baik kali ya?" Itu ya saking dia keselnya karena pertikaian antar agama ini gak habis-habis, dan makin banyak petinggi-petinggi yang suka mengatas namakan Tuhan di setiap aksinya walaupun sebenarnya itu jauh dari kehendak Tuhan yang maha kasih.
Dalai Lama, yang notabene juga pemimpin agama Budha Tibet, pernah menulis di status Facebook-nya sebagai berikut:
"All the world's major religions, with their emphasis on love, compassion, patience, tolerance, and forgiveness can and do promote inner values. But the reality of the world today is that grounding ethics in religion is no longer adequate. This is why I am increasingly convinced that the time has come to find a way of thinking about spirituality and ethics beyond religion altogether."
Jeger banget? Yoi, jeger! Bahkan orang-orang sampai bertanya, apakah Dalai Lama mau menghapus semua agama di dunia hahaha. *Hadeh, gak nyampe segitunya kali*
Statement Paus Fransiskus dan Dalai Lama di atas, sungguh membuat hati saya tergugah. Makanya saya jadi terinspirasi untuk nulis soal ini. Setiap hari dalam hidup kita, marilah kita berbuat kebaikan yang nyata. Tidak penting agama kita apa, tidak penting latar belakang kita apa.
WE MUST MEET EACH OTHER DOING GOOD.
HAVING NO FAITH DOESN'T MEAN HAVING NO MORALITY.
Jadi, marilah kita bertanya pada diri sendiri, have I done something good today? Sudahkah kita melakukan kebaikan hari ini?